Bronkiolitis


Bronkiolitis adalah infeksi akut pada bronkiolus secara menyeluruh yang ditandai dengan adanya obstruksi inflamasi pada saluran nafas kecil. Bronkiolitis menggambarkan suatu sindrom klinis yang ditandai dengan pernafasan cepat, retraksi dinding dada dan suara pernafasan yang berbunyi.

Penyebab tersering (50 - 90%) adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV). Sebagian kecil disebabkan oleh virus para influenza, virus influenza, adenovirus, rhinovirus, mycoplasma pneumoniae (Eaton Agent).

Insidensi penyakit ini terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan dengan puncak kejadian pada usia kira-kira 6 bulan. Sering terjadi pada musim dingin dan awal musim semi (di negara-negara dengan 4 musim). Angka kesakitan tertinggi didapatkan pada tempat penitipan anak sekitar 95%. Bronkiolitis biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas disertai dengan batuk, pilek untuk beberapa hari, biasanya tanpa disertai demam atau demam hanya subfebril.

Kemudian dalam beberapa hari didapatkan batuk makin menghebat, frekuensi nafas meningkat (sesak nafas), pernafasan dangkal dan cepat, pernafasan cuping hidung disertai retraksi interkostal dan suprasternal, rewel sampai gelisah, sianosis, dan sulit makan atau minum

Pada pemeriksaan didapatkan wheezing, waktu ekspirasi memanjang, jika obstruksi hebat suara nafas nyaris tak terdengar, ronki basah halus nyaring, kadang-kadang terdengar pada akhir atau awal ekspirasi.

Penderita bronkiolitis perlu perawatan di rumah sakit karena timbulnya gejala klinis umumnya memerlukan perawatan suportif.

Perawatan ini bersifat emergensi yang perlu ditangani secara cepat dan tepat, yaitu :
• Pemberian oksigen untuk mengatasi hipoksemia, apnea, dan kegagalan pernafasan maka diberikan oksigen 1 - 2 liter/menit.
• Pengaturan suhu tubuh.
• Pencairan lendir yang lengket atau melakukan penghisapan lendir dengan suction.
• Ketepatan pemberian cairan intravena, sebagai penghindaran terhadap dehidrasi yang timbul akibat takipnea atau asidosis respiratorik. Pada Neonatus berikan Dekstrose 10% : NaCl 0,9% = 4 : 1 (KCl 1-2 mEq/kg BB/hari) dan pada Bayi > 1 bulan berikan Dekstrose 10% : NaCl 0,9% = 3 : 1 (KCl 10 mEq/500 ml cairan).
• Posisi nyaman dengan duduk posisi kemiringan 30-40° atau leher pada posisi ekstensi

Setelah penderita stabil maka dapat dilakukan penanganan sesuai penyebabnya dan menghilangkan gejala klinis.

Penanganan tersebut sebagai berikut :
1. Pemberian kortikosteroid (masih kontroversial). Penelitian tentang pemakaian kortikosteroid, awalnya memberikan hasil yang baik terhadap angka kesakitan dan angka kematian penderita bronkiolitis. Walaupun akhir-akhir ini didapatkan hasil justru klinis semakin memberat. Sebagai terapi paliatif dan efek anti anflamasinya, kortikosteroid dapat menimbulkan masking effect.

2. Antibiotik diberikan apabila tersangka ada infeksi bakterial dan sebaiknya dipilih yang mempunyai spektrum luas. Bila dicurigai mycoplasma pneumoniae sebagai penyebabnya, obat yang terpilih ialah eritromisin.

3. Pemberian anti virus seperti ribavirin memperlihatkan hasil yang memuaskan, karena ribavirin menghambat sintesis protein virus. Namun sampai sekarang pemakaian anti virus belum banyak diberikan pada penderita. Indikasi pengobatan ini adalah bayi resiko tinggi, diplasia bronkopulmonar, infeksi paru kronis, defisiensi imunologi, dan penyakit jantung kongenital.

4. Pemberian obat sedativa merupakan kontraindikasi pada penyakit bronkiolitis karena dapat menyebabkan depresi pernafasan dan juga tidak dianjurkan memberi bronkodilator karena dapat memperberat keadaan anak yaitu dengan peningkatan curah jantung dan kegelisahan anak.